News
Mengubah Topik Kekerasan
2012-02-20
Komentaris:
Mengubah Topik Kekerasan

Slavoj Zizek mengajak kita untuk mencurigai diskursus humanitarian versi liberal tentang kekerasan yang ia anggap mengidap “the fake sense of urgency”. Kepalsuan ini berkaitan erat dengan koeksistensi yang terlalu konkrit, jelas dan nyata antara analisis di satu sisi dan tampilan data empirik di sisi lainnya dalam proses penggambaran terjadinya sebuah kekerasan. Kita sering membaca laporan tentang anak-anak yang meninggal akibat malnutrisi dalam hitungan menit, perempuan yang diperkosa di tempat-tempat umum hampir setiap hari dan penghinaan yang tidak ada hentinya terhadap para transgender. Urgensi yang tampil dalam pemberitaan seperti ini kerap menepis refleksi dan teorisasi karena yang sangat dibutuhkan segera adalah “tindakan”. Bill Gates menegaskan urgensi (palsu) ini sebagai berikut: “What do computers matter when millions are still unnecessarily dying of dysentery?”

Tapi urgensi yang sama tidak muncul ketika jutaan petani menjalani hidup yang semakin sengsara bahkan perlahan jatuh di bawah garis kehidupan yang normal akibat liberalisasi ekonomi. Tidak terdengar kepedulian humanitarian yang hingar bingar seperti menunjukkan adanya semacam mekanisme penyaringan yang memungkinkan berita semacam ini tidak berhasil menimbulkan implikasi yang optimal dalam medan simbolik para pemirsa. Dalam pergulatan memperebutkan hegemoni penderitaan, peristiwa semacam ini, menurut Zizek, telah memilih korban yang “salah”; sama persis dengan kematian sekitar empat juta orang dalam perang saudara di Republik Demokratik Kongo yang tidak begitu banayak mendapat perhatian dunia karena korbannya bukan anak-anak Palestina di Tepi Barat atau korban serangan 11 September.

Zizek kemudian mengutip sebuah gurauan lama tentang seorang suami yang pulang ke rumah lebih awal dan menemukan isterinya di tempat tidur dengan lelaki lain. Isteri yang terperanjat langsung bertanya, “why have you come back early?” Sang suami dengan nada marah membalas, “what are you doing in bed with another man?” Isteri yang tertangkap basah dengan nada tenang menjawab, “I asked you a question first—don’t try to squeeze out of it by changing the topic!” Situasi yang serupa, bagi Zizek, dialami diskursus tentang kekerasan. Tugas utamanya adalah “change the topic”, beranjak dari seruan humanitarian untuk menghentikan kekerasan yang kasat mata dan bersifat subyektif menuju analisis tentang kekerasan yang juga memperhatikan keterkaiatan antara kekerasan jenis ini dengan kekerasan yang bersifat sistemik dan simbolik yang sering kali tidak terdeteksi dengan indra.


Eric Hiariej
Program on Peace Building and Violence Radicalims (PILAR) Researcher
Institute of International Studies (IIS) UGM
Copyright © 2011
Institute of International Studies
All Rights Reserved
10-05-2012
Aksi Hari Buruh Dan Refleksi..
Komentaris: Aksi Hari Buruh ... More>>
10-05-2012
Netralitas Dalam Aksi Kemanusiaan..
Komentaris: Netralitas dalam ... More>>
Poster_IPSC_web.jpg
03-05-2012
Memetakan Indonesia Sebagai..
Seminar: Memetakan Indonesia ... More>>